Hai, Namaku RINDU. Aku Anak Kandung KESEPIAN…

Posted in Catatan Mbah Jiwo on November 8, 2012 by Mbah Jiwo

Buat kamu yang berkunjung ke Blog Teater Langit malam ini, pasti merasa aneh dengan tampilan blog serba hitam seperti ini. Syerem!! Tapi tidak buat anak-lama-teater-langit. Karena inilah tampilan pertama dari Blog Teater Langit.

Betul? Kamu yang membetulkan, bolehlah dipanggil TUA. Tua di Teater Langit hihihi…

Hari ini, setelah 5 tahun Teater Langit berdiri, sudah banyak rindu terucap. Generasi pertama, kedua, ketiga dst. Yang sudah menikah, yang sudah tidak di Malang, yang sudah punya anak, yang sudah lupa dengan TL, yang sudah sibuk dengan aktivitas baru.

Setiap ketemu saya, sering berucap rindu.

Jangankan kalian.

Anak-anak lama yang sekarang masih ada di Teater Langit, pun demikian. Tak lelah mereka mengumandangkan rindu. Rindu itu memang ada kawan.

Banyak kenangan kita buat dulu, lelucon, sindir-sindiran, gojlok-gojlokan, sampai jodoh-jodohan. Masih ada lo ingatan itu!

Setiap pentas, setiap latihan, setiap sutradara, setiap naskah, setiap mp.3 dubbing. Semuanya bercerita, tentang kita dulu.

Lima tahun sudah.

Sekarang ada anak-anak baru. Modelnya jauh beda dengan kalian yang lalu. Anak sekarang serius-serius. Tapi kadang ngga solid. He he he…

Anak sekarang lugu-lugu, tapi kurang seru diajak melucu. Mungkin bahasanya sudah beda ya. Mungkin aku yang terlalu tua. Leluconnya harus ganti dengan yang baru.

Ciyus! Miayam…

Demikian coretan sore ini, ohya…perkenalkan namaku RINDU. Aku anak kandung SEPI. Sepi yang kau ciptakan sendiri.

Malang. 8 November 2012.

Advertisements

Diklat IV Teater Langit Malang

Posted in Catatan Pak Wow with tags , , , , , on November 14, 2011 by Abah Gahul

Spongebob dan Rindu

Posted in Catatan Bambang with tags , on October 17, 2011 by Abah Gahul

Setiap kali, kami, anak-anak Teater Langit berkumpul, setumpuk guyonan pasti akan muncul.

Dan seperti efek domino, jika satu guyonan sudah jatuh ke forum, maka guyonan yang lain segera menimpali. Susul-menyusul dan sulit dihentikan.

Tak heran, jika dalam satu jam waktu pertemuan, maka 45 menit dihabiskan untuk guyon. Baru sisanya untuk membahas hal-hal yang tidak penting: menentukan jadwal latihan, mempersiapkan cerita, siapa yang mengundang latihan, dan lain-lain dan lain-lain.

Entah kenapa saya menganggap guyon, keakraban, kebersamaan, dan kesederhanaan diantara kami menjadi hal yang lebih penting. Tapi bukankah itu yang selalu mendekatkan dan menjadi kenangan tak terlupakan?

Saat berkumpul itu, tiba-tiba saja kami berubah menjadi grup Srimulat yang tak pernah kehabisan stok humor.

Mulai gaya humor srimulatan, meniru langgam bahasa daerah-daerah atau meniru gaya bicara ABG alay. Semua jadi menu guyonan yang segar. Seingat saya Reza yang paling mahir menirukan gaya alay ini. (Tapi sampai sekarang saya belum yakin kalau Reza hanya berakting saat melakukan gaya alay tersebut).

Satu guyonan yang sering diulang-ulang di awal-awal adalah guyonan ala Spongebob.

“Tenang, Patrick, yang kita butuhkan adalah ima-jina-si.”
Tiba-tiba saja seseorang diantara kami muncul dengan ekspresi polos nan optimis ala Spongebob, lengkap dengan gaya kedua tangan yang merentang membuat lingkaran besar.

Entah kenapa saat sedang mandek atau buntu, kutipan Spongebob ini selalu muncul.

Guyonan lain yang biasanya muncul adalah saat menyinggung kelihaian Mr. Scrabs dalam memanfaatkan kondisi sulit. Seperti diketahui, kepiting merah berkumis sebelah ini, sangat piawai mengelola bisnisnya berjualan krabby patty.
Saat banjir, ia tak kehabisan akal. Mr. Scrab menjual krabby patty di atas perahu. Begitupun saat bersalju, dia berjualan burgernya di atas arena ice skiting. Cerdik.

Maka saat ada kendala menghadang, yang selalu saja ada, saat akan pentas, Mr. Scrab selalu muncul menginpirasi. Karena otak bisnisnya juga ia menjadi lelucon.

Ketiga, guyonan ala Spongebob yang lain adalah tentang “hari kebalikan”. Saya lupa-lupa ingat, dalam hal apa tepatnya “hari kebalikan” ini muncul menjadi guyonan. Tapi sekali atau dua kali guyonan ini pernah muncul.

Mungkin karena itu, kemarin, ketika ada seseorang berbicara Spongebob denganku, seolah ada teman lama yang menyapa. Bukan saja aku menganggapnya lucu tapi jauh dalam hatiku, aku merasakan sentakan. Keakraban yang mengingatkan untuk kembali mempercayai sesuatu yang dulu dekat di hatiku.

Salam kangen semuanya..

Jakarta, 17 Oktober 2011
Di sela-sela kejaran deadline.

Bambang Trismawan


*end*

%d bloggers like this: