Puisi

Sahabat, silahkan kalau mau numpang nulis PUISI. Ingat hanya PUISI, no other comment!!

Advertisements

88 Responses to “Puisi”

  1. TETES EMBUN TERAKHIR

    Tetes embun terakhir,
    yang bercampur air hujan semalam,
    akhirnya jatuh jua dari hati.
    menguap sebelum membasahi bumi
    terlupa sebelum menjadi puisi

  2. Merenda ibu

    Ibu
    Aku
    Menggoreskan
    air matamu
    di
    ulu
    hatiku

    biar beningnya
    menyatu larut dalam darahku

    garis-garis wajahmu
    bukanlah bayangan
    yang tertangkap retina
    tapi adalah kejujuran yang
    nyata
    terukir dalam setiap lekuk
    saraf memoriku
    menggetarkan
    seluruh organ tubuhku
    dengan ruh
    cintamu

    getaran itu menjelma gelombang
    gelombang menjadi pasang
    galak dan menghantam-hantam
    pada butir-butir pasir
    yang berkompromi dengan takdir
    laut mengecup lembut
    dan mengucapkan
    selamat malam….

  3. Malam – Pagi

    Kalau cinta terpuaskan
    dan hasrat terpenuhkan
    dan jiwa tercerahkan
    Adakah lainnya dibutuhkan
    ….

    Duhai malam…
    Datanglah engkau sekarang…
    Selimuti aku

    Bubuhi aku
    Nisbatkan aku pada pagi
    Agar jiwa tak lagi mati
    Penuh
    Penuh
    Penuh

  4. HALAQAH LANGIT

    Kau lihat matahari,
    sinarnya memberi kita kehangatan
    dan kehidupan.

    Kau lihat bulan,
    perputaranya memberitahu kita hitungan waktu
    hari dan pasang surut samdra,

    kau lihat awan
    hadirnya bawa kesejukan
    dan kerinduan akan hujan

    kau lihat bintang
    susunannya menjadi penunjuk jalan pengembara.
    dan sejuta cerita untuk kita

    Inilah halaqah langit
    dan seluruh anggotanya
    yang bermanfaat tuk bumiku
    bumimu
    bumi kita..

  5. “firasat”

    bukan isyarat kata-kata
    karena alam meniupkannya begitu saja
    apakah kicau burung itu adalah dirimu yang menjelma

    hanya soal waktu
    yang akan menjawabnya

    haruskah aku mengikhlaskannya
    tanpa terbersit sebuah tanya

    sungguh, aku ingin bicara padamu
    sekali saja
    saat bulan berwarna biru
    dan hatiku abu-abu

    apakah kebenaran itu milikku saja?

    kau biarkan aku tersiksa
    dalam ambigu mimpi dan nyata

    firasat itu ada

  6. SETITIK NODA HITAM

    .

  7. laut adalah perempuan
    bumi adalah perempuan
    air adalah perempuan

    samudera juga perempuan
    tanah juga perempuan
    rembulan juga perempuan

    dan selebihnya hanyalah sepi..

    dan selebihnya adalah sepi.

  8. Pernahkah …

    Pernahkah ………
    Saat kita membutuhkan seseorang
    Ada yang datang menghampiri seraya tersenyum ???

    Pernahkah ………
    Saat kita terjatuh dalam lubang kegamangan …..
    Ada yang datang mendekat seraya mengulurkan tangan ???

    Pernahkah ………
    Saat kita menangis …….
    Ada yang datang sambil menyeka airmata di pipi kita ???

    Pernahkah ………
    Saat kita tertawa …….
    Ada yang datang sambil membawakan lelucon yang lucu ???

    Pernahkah ………
    Saat kita sedih …….
    Ada yang datang dan sesegera memeluk diri kita dengan hangat ???

    Pernahkah ………
    Saat kita gembira …….
    Ada yang datang dan ikut merasakan kesenangan kita ???

    Jika kita tidak pernah merasakan hal itu ……
    Cobalah untuk menjadi orang yang pertama tersenyum
    Orang yang pertama mengulurkan tangan
    Orang yang pertama mengusap airmata
    Orang yang pertama melucu
    Orang yang pertama memberikan pelukan hangat
    Orang yang pertama merasakan perasaan senang

    Karena …..
    Orang pertama inilah yang akan menjadi sangat berarti ….

  9. Ketidakhadiranku Bukan Ku Tak Mencintaimu

    pernah ada masa-masa dalam cinta kita
    kita lekat bagai api dan kayu
    bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
    hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
    tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
    pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
    kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
    merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
    dan melukis pelangi
    namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
    di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
    mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
    bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
    saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
    kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
    menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
    “bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
    willow tumbuh subur meski diabaikan”
    maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
    “berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
    padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
    seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
    maka seolah aku telah membiarkan
    orang bisu yang merasakan kepahitan
    menderita sendiri, getir dalam sunyi
    -ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-
    dan sekarang aku merasa bersalah lagi
    seolah hadirku kini cuma untuk menegur
    hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
    bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
    -kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
    hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-
    kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
    satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
    terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
    “sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
    maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”
    “antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
    dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
    “ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
    kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
    tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”
    tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
    “sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
    “lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
    “hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
    lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
    masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”
    ‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
    tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
    katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
    demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”
    lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang
    ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
    mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
    pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini……

  10. DOA JODOH

    Ya Allah…
    Seandainya telah Engkau catatkan
    dia akan menjadi teman menapaki hidup
    Satukanlah hatinya dengan hatiku
    Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
    Agar kemesraan itu abadi
    Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
    Seiringkanlah kami melayari hidup ini
    Ke tepian yang sejahtera dan abadi

    Tetapi ya Allah…
    Seandainya telah Engkau takdirkan…
    …Dia bukan milikku
    Bawalah ia jauh dari pandanganku
    Luputkanlah ia dari ingatanku
    Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

    Dan peliharalah aku dari kekecewaan
    Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
    Berikanlah aku kekuatan
    Melontar bayangannya jauh ke dada langit
    Hilang bersama senja nan merah
    Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

    Dan ya Allah yang tercinta…
    Gantikanlah yang telah hilang
    Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
    Walaupun tidak sama dengan dirinya….

    Ya Allah ya Tuhanku…
    Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
    Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
    Adalah yang terbaik buatku
    Karena Engkau Maha Mengetahui
    Segala yang terbaik buat hambaMu ini

    Ya Allah…
    Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
    Di dunia dan di akhirat
    Dengarlah rintihan dari hambaMu yang dhaif ini
    Janganlah Engkau biarkan aku sendirian
    Di dunia maupun di akhirat

    Jagalah hambamu ini dari bermaksiat KepadaMu
    Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
    Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
    Ke jalan yang Engkau ridhai
    Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

    Amin… Ya Rabbal ‘Alamin

  11. Maukah kau mengangkat Panggilan itu??

    baru sebulan kita pasang tenda di tasikmalaya
    gempa hebat, terasa benar hingga ibukota
    lalu kini bumi bergetar di tanah sumatra

    lagi.. lagi… dan lagi…
    Allah sedang memanggil kita!!

    dan sadar atau tidak…
    itu hanya dering getarnya saja
    deringnya menjadi badai di manila
    dan tsunami di kepulauan samoa
    di sumatra
    kita hanya dapat getarnya saja

    sudah berkali-kali kita dibangunkan, dipanggil
    dengan diperciki samudera hindia
    jadilah tsunami luar biasa di aceh kita
    dipanggil kita dengan nomor-nomor berbeda
    degan nomor 5 ribu jiwa di yogya
    dengan nomor 7.3 skala ritcher di bengkulu
    tsunami di pangandaran dan pantai selatan jawa
    lalu gempa tasikmalaya yang baru-baru saja..

    namun heran benar
    tak juga ada yang mengangkat panggilan-Nya?
    apa karena kita takut menjawab?
    ketika ditanya sang pencipta,
    kenapa pula negeri ini masih korupsi
    masih banyak maksiat, masih pula tak berbudi
    apalagi hendak dikata islami?? duh….

    maka jangan heran apabila kita masih akan dipanggil
    dengan panggilan-panggilan lain…
    kali ini hanya getarnya saja…
    besok, lusa, atau entah kapan…
    selama tak ada yang mengangkat panggilan itu…
    negeri ini akan terus dipanggil
    dan mungkin dengan nomor-nomor berbeda
    dengan cara-cara lain kehendak-Nya…

    Tak usah bingung kau bagaimana mengangkat panggilan-Nya
    ambil beras rumah kita, lalu bagikan buat mereka yang tak punya
    ayo tangkapi pencuri-pencuri uang negara, lalu masukkan ke penjara
    ayo hapus tayangan-tayangan maksiat itu, lalu buat yang ber etika
    tutup mulut-mulut kata-kata kotor itu, lalu ganti dengan senyum santun kita…
    hapus benih keputusasaan, ganti ia dengan semangat membara
    hapus benih keacuhan, ganti ia dengan hangat kepedulian
    kikis habis iri, dengki haus kekuasaan, ganti dengan tawadhu keikhlasan
    dan hapus wajah-wajah beringas, ganti dengan senyum keramahan
    amar ma’ruf, nahi mungkar, buat negeri ini lebih dekat kepada Ar Rahman

    mari duduk bersama dalam majelis yang satu
    tak peduli kau petani, tukang parkir, pembantu
    presiden, menteri atau sekedar tukang sapu
    mari lebarkan sajadah kusam peninggalan kakekmu
    pakai kembali peci hitam hadiah ulang tahunmu
    kencangkan sarung dan mukenamu dahulu
    buka lagi kitab suci bertumpuk debu di lemarimu
    mari meng-kaji ayat-ayat luar biasa merdu
    baca artinya dan resapkan di hatimu
    lalu sampaikan, sampaikan ayat-ayat itu ke temanmu
    orangtuamu, keluargamu, tetanggamu… bahkan bos-bosmu!!!

    Allah ya rabbi
    kami hanya manusia-manusia kecil yang mencoba mengangkat penggilan-Mu
    di kota sana masih banyak pejabat yang masih tak sudi dengan panggilan-Mu
    para pemimpin yang mungkin tak lagi peduli dengan panggilanmu

    Kuatkan kami ya Rabb..
    kuatkan kami agar negeri ini mampu menggerakkan jemarinya,
    satu telunjuk saja tuk bisa menjawab panggilan-Mu…
    agar kita bisa berkata, negeri ini sudah Islami,
    agar negeri ini mendapat ridha-Mu…
    ampuni kesalahan kami ya Rabbi…
    ampuni kesalahan negeri ini ya Rabbi…

    Malang, tengah Malam
    6 Oktober 2009

  12. Wahai kawan
    kini kau tlah selesai melewati jalan ini
    Kini langkahmu kan terus berlalu
    Hingga menemukan tempat yang terindah
    Selamat jalan wahai kawan
    Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu

    Malang,10 Oktober 2009

  13. Saatnya telah tiba bagimu wahai kawan
    Perjalanan berat nan jauh ini telah membawamu menuju lembah berikutnya
    Memang terasa berat melihat kepergianmu setelah kebersamaan ini
    Namun tlah tiba saatnya bagimu tuk melanjutkan perjalanan

    Masih segar dalam ingatanku tentang perjuangan dan pengorbanan yang kau berikan

    Takkan pernah hilang dalam ingatan
    Disaat engkau nyaman berada dalam kawanan penuhSaatnya telah tiba bagimu wahai kawan
    Perjalanan berat nan jauh ini telah membawamu menuju lembah berikutnya
    Memang terasa berat melihat kepergianmu setelah kebersamaan ini
    Namun tlah tiba saatnya bagimu tuk melanjutkan perjalanan

    Masih segar dalam ingatanku tentang perjuangan dan pengorbanan yang kau berikan

    Takkan pernah hilang dalam ingatan
    Disaat engkau nyaman berada dalam kawanan penuh kenikmatan
    Engkau relakan semua itu
    Demi bersama sama menegakkan kebenaran

    Terima kasih kawan semoga perjalalanmu selanjutnya dipenuhi kesuksesan dan keberhasilan

    Malang, 10 oktober 2009

  14. Demonstrasi

    Kau ingin apa?
    “Teriak saja!”

    Untuk siapa?
    Bahkan kau tak tahu
    Ingin lari kemana

    “Bakar saja!”

    Demi apa?
    Bahkan kau tak menyadari
    Siapa yang terluka

    Jika apa dan siapa
    demi dan untuk apa
    tiada kata jawabnya
    Inikah yang kau bela?

  15. Dialog

    “Dunia ini tawar,” katamu
    Lalu apa artinya?
    Adalah hujan yang tak konsisten dengan musimnya
    adalah air laut yang memuntahkan
    garamnya
    adalah gunung yang melelehkan
    laharnya
    adalah hutan yang menumbangkan
    pohonnya

    “Dunia ini nyata,” katamu
    Lalu apa artinya
    panggung sandiwara
    yang kau mainkan dengan make up jenaka?

    Ada air mata jatuh
    di pipimu, sahabat
    Apakah perlu
    kupinjamkan tanganku
    untuk menyekanya?

  16. Surat Cinta Buat Bapak
    II

    Dulu,
    pernah kau ceritakan
    padaku
    tentang ular, kalajengking, belut
    dan serigala
    yang memangsa domba kecil
    dengan rakusnya

    Demi Tuhan!
    Kini aku tertawa
    Melihat domba dan
    serigala
    Berkolaborasi dalam mimikri
    Duduk di satu kursi
    Menghabiskan jatah roti
    Yang harusnya dibagikan
    merata
    “Adil dan bijaksana”
    Ha!!!!

  17. aluamah

    Cinta Mu tak henti-hentinya
    mengalir pada cangkir kehidupanku
    tapi waktu demi waktu
    kutuangkan dosa
    hingga tumpah segala

    lalu aku tersedu
    diatas sajadah kelabu
    di bawah langit biru
    memohon kembali Kau
    guyurkan cinta Mu
    seperti hujan deras menumbuhkan
    pohon layu

    Engkau tersenyum dan memelukku
    dadaku sesak penuh rindu
    saat itu bunga rumput bertasbih
    penuh haru

    setahun berlalu…

    CintaMu terus saja mengalir
    di cangkir kehidupanku
    aku lupa pada rindu,syahdu, dan haru

    dan kembali kutuangkan dosa
    dosa
    hingga tumpah segala

  18. -> Seperti Cinta, Seperti Kamu <-

    Ada Kalanya Untuk Mendapatkan Hidup
    Kau Harus Mati Terlebih Dahulu
    Ada Kalanya Untuk Merasakan Kenikmatan Yang Besar dan Tak Terduga
    Kau Harus Memberikan Yang Kau Cintai Pada Awalnya

    Ada Kalanya Untuk Menjadi Tenang
    Kau Harus Mengingat Sesuatu Yang Abstrak
    Ada Kalanya Untuk Bisa Mengerti
    Kau Harus Berkata “Aku ini benar-benar bodoh..“

    Seperti Hidup
    Yang Tak mudah Dipahami

    Seperti Kenikmatan
    Yang Tiada Terduga

    Seperti Ketenangan
    Yang Terkadang Menghanyutkan

    Sama Saja…
    Seperti Cinta
    Seperti Kamu!!

    [Dinoyo, 10 Juni 2009]

  19. Untitled

    Jika kamu abu-abu,
    Aku apa?
    Jika kamu putih,
    Apa aku harus ikut kamu?
    Pun jika kamu legam,
    Apa aku harus tinggal kamu?

    Atau lebih baik untukku, pakai topeng?

    Aku tak mau pakai topeng.
    Itu bahaya!
    Aku punya keinginan sendiri.
    Wujudkan misi
    Wujudkan mimpi
    Sampai akhir…
    Sampai titik…
    Meski akan ku tinggalkan kamu sendiri, disini!!

    Kumpulan puisi “aku dan kamu”
    Bandar Lampur, 29 Januari 2005

  20. Pahlawan Bertopeng Says:

    Hidup adalah……

    * Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.

    * Hidup adalah keindahan, kagumi itu.

    * Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.

    * Hidup adalah tantangan, hadapi itu.

    * Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.

    * Hidup adalah pertandingan, jalani itu.

    * Hidup adalah mahal, jaga itu.

    * Hidup adalah kekayaan, simpan itu.

    * Hidup adalah kasih, nikmati itu.

    * Hidup adalah janji, genapi itu.

    * Hidup adalah kesusahan, atasi itu.

    * Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.

    * Hidup adalah perjuangan, terima itu.

    * Hidup adalah tragedi, hadapi itu.

    * Hidup adalah petualangan, lewati itu.

    * Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.

    * Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

    Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

  21. ryan bukan anak jombang Says:

    Selamat Pagi Malang…..!

    apakah harapan itu masih ada?????
    apakah harapan itu telah ada??????
    atau sudah pergi…????

    ya….
    semua kita yang menentukan….
    semua kita yang pastikan..
    semua kita yang putuskan…

    Jadi, kalo bukan kita, siapa lagi….?

    Lakukan apa yang bisa kita lakukan,
    karna keberanian itu memiliki sebuah keajaiban…!

  22. 15102008-8:58AM

    gamang yang kujahit bersama embun, hinggap lamat-lamat
    bayang yang kurenda bersama rumput, peluk mesra
    tengadahku sendiri pada laut
    lapar dan haus rindu

    tatkala hatiku memuncak, dedaunan belai wajah
    lalu aku tiada

  23. Terperangkap Malam

    Angin belum berhenti juga. Hujan belum reda juga.
    tapi kata-kataku tercekat diujung lidah
    jatuh terperangkap udara hampa.
    beku oleh dingin malam
    putus oleh bayang-bayang.

    Malam ini ia nampak begitu fana
    temaram menggesernya lamat-lamat
    menjauh pergi dari hati.

    saat itu, entah angin entah hujan entah malam
    yang menyelinap dalam sunyiku.

    Malang, Januari 2009

  24. kata-kata yang kau susun rapi

    kata-kata yang kau susun rapi
    berhari-hari setiap hari
    di sunyi malam hari
    di segar kabut pagi
    telah berubah sendiri
    menjadi puisi
    yang bahkan kau sendiri
    tak pernah mengerti.

    Malang, September 2008

  25. Tak Akan Lagikah

    Tak Akan lagikah??

    Sadarku kini tak selalu ada di benakku
    Sadarku tentang hadirMU
    Sadarku akan MahaMu

    Sudah terbaring lama aku berpeluh
    Penuh Dosa
    Perih penuh luka
    Terpanggang laku sendiri

    Tak terdengar lagi segala perintahMu
    yang biasa berdesir di semua nadiku
    Tak terdengar lagi bisikMU
    yang biasa bergetar di hatiku
    Tak kurasa lagi kehadiranMu
    di debar jantungku
    Tak akan lagikah??

    Tak akan lagikah?
    Aku yang memanggilMU?
    Atau sebaliknya, Kau yang Menyapaku?

    Kucari Kau ditempat biasa kumenemuiMu
    Dalam sujudku
    Dalam renungku
    Dalam diamku
    Dalam seluruhku

    Tak akan lagikah Kau hadir,
    Mampir di lelap tidurku ?
    Bercakap dalam senyap diantara lelap?

    Ah,
    Mungkin kini sudah tak tahu aku
    bagaimana adab bercakap denganMu ?

    Sukabumi
    Satu Juli 08

  26. Tak Pernah Sampai

    Lidahku bisa setajam belati
    Seharum wangi melati
    Seindah warna pelangi
    Bisa menari seelok burung kenari
    yang merampas banyak hati

    tapi
    di hadapanmu lidahku mati

    Aksara
    kata
    rasa
    makna
    mantra
    tak sampai-sampai
    kepadamu

    Menggapai-gapai
    Tapi tak pernah sampai kepadamu

    Tak pernah sampai..

    Juni 2008

  27. -> Adalah Puisi <-

    hidup adalah puisi
    bapak ibu, adalah puisi
    kasih sayang, adalah puisi
    hamil, adalah puisi

    tanggung jawab, adalah puisi
    9 bulan, adalah puisi
    lahirnya bayi, adalah puisi
    tangisan pertama, adalah puisi

    menjadi dewasa, adalah puisi
    menjadi tua, adalah puisi
    mengerti hidup, adalah puisi
    kesalahan hidup, adalah puisi

    mengenal cinta, adalah puisi
    menyampaikan cinta, adalah puisi
    melahirkan cinta, adalah puisi
    bosan cinta, adalah puisi

    sukses gagal, adalah puisi
    mencari bekal, adalah puisi
    hikmah akhirat, adalah puisi
    kematian adalah puisi

    awalnya puisi, kemudian puisi, lalu puisi, akhirnya puisi

    [Malang, 17 Oktober 2009]

  28. Raden Mas Nyoto Tenan Says:

    Surat buat Adinda,
    Apa yang aku pikirkan saat ini adalah saat dimana pelangi dan hujan dalam harmoni sejuknya udara…ditembus halus oleh sinar mentari, memberi keindahan tiada tara pada setiap penciptaanNya. Kasihku apakah engkau masih selembut yang dulu…menyemangatiku dalam kondisi terlemahku, sehingga tidak satupun ruang dalam diri ini kosong terlunta tanpa isi. Senyum simpul nan manis pada bibir lembut itu tetap ada dalam setiap langkahku…menjadi kekuatan tersendiri saat badan ini tegak melangkah.

    Kasihku bersabarlah…aku yakin Alloh sangat sayang pada kita berdua, seperti sayang ibu kepada anak-anaknya. Dengan keyakinan kita akan bertemu kembali dalam jalinan yang tidak pernah layu walau bumi tidak lagi terusap oleh embun ataupun air hujan sekalipun…Ikatan dalam hangatnya iman, pertalian suci yang akan kekal abadi selamanya. Yakinlah kasihku itu akan terjadi…Aku tau dirimu disana menunggu jawaban yang seolah-olah tiada bertepi. Kerisauan seorang gadis berjilbab rapi nan anggun dalam menanti titik terang cahaya kehidupan yang sesungguhnya. Tetapi sayangku tidakkah engkau ingat setiap pertanyaan pasti ada jawaban, setiap langkah pertama pasti ada langkah kedua, dan setiap mimpi itu akan menjadi kenyataan pada saatnya kelak.

    Senyumlah seperti engkau senyum saat memandangku terakhir kali kita bertemu. Karena itu adalah kekuatan untuk meyakinkan dirimu dalam galau malam yang terlihat semakin muram. Kasihku percayalah…Didepan sana aku menunggu penuh harap bahwa engkau dipilih Alloh sebagai teman dalam perjalanan yang panjang ini. Kasihku aku sangat sayang pada dirimu…Tunggulah aku disana…ketika langkah kaki ini sampai pada saatnya berjanjilah untuk setia menemaniku…

    Puisi ku ke seorang akhwat iki, asline rahasia..tapi wes kadung di posting..yo wes wocoen ae rek…

  29. Salahkah

    merenda butiran air mata
    kan basahkah hatimu?
    jelaga di gelap malam
    kan putihkah?
    asap kemenyan tebarkan aroma
    wangi memilukan
    desah rindu bayu harap buih larut
    sedang ia memutih
    dan tetap jadi buih
    kawan salahkah?
    salahkah…
    harapkan mentari ditengah malam
    sedang ia tak pernah terlihat disana

  30. Mengapa hidup harus di buat susah
    jika ada jalan yang memudahkan

  31. Jeritan di RUAS JALAN ITU
    Langit saga berarakan awan kelabu
    Terik mentaripun enggan menyapa sendu
    Suasana lingkungan polusiku……
    Terbilang ramai ruas jalan itu, meringkik pilu
    Lantaran beban badannya memikulpun tak mampu
    Truk, montor, mobil dan MPU
    Mnyrempet pinggir ruas jalan itu,
    Hingga menyempitkan teriakannya
    Penat, suntuk dibuatnya
    erangan penadah tangan seraya meminta
    “Belas kasihanilah kami tuan…”
    Ku cari sumber kebisingan itu, terasa ambigu
    Sosok imut merayu, sosok renta mengaduh
    Miris sayatan belahan hati, inikah negeriku?
    Ruas jalan itu terhimpit mewahnya raungan truk, motor, mobil dan MPU
    Seolah bertanding ala mike Tyson vs evander holyfield
    Saling sikut saling ngejab, saling menggigit..
    Tak peduli erangan sang penadah tangan
    “ Belas kasihanilah kami tuan…”
    Ruas jalan itu tak mempu memikul lagi
    Menjerit ”Belas kasihanilah kami tuan….”
    Siapa peduli… ?!
    melesatkan roda bundar, sambil memaki teriakan klakson tanpa henti
    berharap saling menang, tak peduli….
    saling sikut, saling ngejab, saling gigit, melesat….menjauh… mengelip…..lip….
    semakin lirih ku dengar :” belas kasihanilah kami tuan…”
    Belas kasihnilah kami tuan……..

  32. pengharap rido Allah Says:

    Di Sepertiga Malam

    Di sepertiga malam…
    Aku terjaga
    Tak ada kata
    Tak ada suara
    Hampa…

    Di sepertiga malam…
    Aku berdiri
    Sunyi
    Sepi
    Semuanya mati
    Kututup tirai mimpi
    Kuraih kesadaran diri

    Di sepertiga malam
    Aku menanti
    Datangnya Sang ilahi Rabbi
    Kepada jiwa-jiwa yang sepi
    Yang rindu akan kekasih

    Di sepertiga malam…
    Aku terjaga
    Ku gelar sajadah
    Ku datang dengan keluh kesah
    Berharap Engkaupun ada.

  33. pengharap rido Allah Says:

    Daun dan Angin
    Aku hanyalah daun,
    Menempel di dahan.

    Aku kering,
    Walaupun dahanku masih segar
    Dan pohonnya selalu tegar

    Tapi kenapa aku lemah??
    Kenapa Allah tak menjadikanku
    Seperti pohon dan dahan
    Tempatku saat ini??
    Kenapa Allah tak menjadikanku
    Seperti daun-daun lain
    Yang selalu segar dan tegar??

    Hingga…
    Semakin hari
    Aku semakin lemah

    Datanglah angin…

    Aku terbawa oleh angin

    Aku terpisah dari pohonkku
    Aku terpisah dari dahanku
    Juga daun-daun yang lain

    Hingga aku jatuh
    Di atas tanah yang asing bagiku

    Aku tidak tahu,
    Apakah aku mampu bertahan di atas tanah ini??

    Ahh…biarlah aku di sini
    Selamanya
    Sampai tubuhku lapuk
    Dan aku akan menjadi pupuk
    Bagi pohon-pohon
    Yang pernah menjadikanku
    Daun hijau di dahannya.

  34. pengharap rido Allah Says:

    Do’aku

    Serpihan cahaya malam
    Datang menghujam

    Membunuh kerpekatan malam
    Membangkitkan beribu anagan

    Sayup-sayup terdengar suara nyanyian alam

    Di bawah sinar rembulan
    Di dinginnya malam
    Aku menengadahkan tangan

    Ya Allah…
    Hamba datang pada-Mu
    Mengharap dan mengemis cinta
    Pada-Mu

    Rintik-rintik air mata
    Jatuh satu per satu
    Mendesak kelopak mataku
    Yang terpejam

    Ya Allah…
    Ke mana Kau sembunyikan cinta-Mu??
    Yang dulu Kau berikan untukku

    Ya Allah…
    Ku tahu
    Bahwa Engkau tahu

    Hati ini…
    mendambakan cinta-Mu

    Jiwa ini…
    Haus akan kasih sayang-Mu

    Dan…

    Raga ini…
    Merindukan dekapan hangat-Mu

    Allah…
    Aku telah kembali…

  35. pengharap rido Allah Says:

    Sudahkah aku bersyukur???

    Aku manusia…
    Sempurna Allah menciptaku

    Diberi-Nya aku dua tangan
    Untukku berbuat kebaikan

    Diberinya aku bibir indah
    Agar ku selalu berkata baik
    Dan selalu menyebut nama-Nya

    Diberi-Nya aku dua kaki
    Untukku berjalan…
    Berlari…
    Mengejar keinginan
    Dan cita-cita mulia

    Diberi-Nya aku telinga
    Agar ku tak pernah lalai
    Dari perintah-Nya

    Diberi-Nya aku mata
    Untukku melihat ciptaan-Nya
    Dan mengambil pelajaran darinya

    Sempurna Allah menciptaku

    Sudahkah aku bersyukur??

    “…sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

    Ya Rabb…ampuni aku
    Hamba-Mu yang tak pandai bersyukur ini

  36. pengharap rido Allah Says:

    sabtu, 27-20-2007
    Negeri di atas awan

    Kawan,
    Lihatlah…
    Langit begitu cerah
    Bulan hadir dengan senyum merekah
    Bintang juga tak mau kalah
    Malam pun terasa indah

    Lihatlah kawan…
    Sinarnya
    Bagaikan lampu-lampu kota
    Berkerlap-kerlip
    Seperti mata yang mengerling genit

    Kawan…
    Aku seperti melihat sebuah negeri,
    Negeri yang jauh dari segala kebisingan,
    Negeri yang penuh dengan kedamaian
    Negeri di atas awan
    Negeri khayangan

    Wahai penghuni negeri khayangan
    Datanglah padaku!!!
    Bawalah aku bersamamu!!
    Pergi ke tempatmu
    Agar aku bisa merasakan kedamaian itu

    Aku rindu kedamaian!!!
    Aku inginkan ketenangan!!!

  37. pengharap rido Allah Says:

    Teruntuk mereka, anak-anak yang hidup di jalanan, yang bekerja keras untuk mendapat sesuap nasi sebagai penyambung hidupnya.semoga Allah memberikan berkah dan rahmat di setiap langkah mereka. Tetaplah tersenyum adik-adikku, malaikat kecil…
    MALAIKAT-MALAIKAT KECIL
    Mereka yang selalu tersenyum di setiap hari-harinya
    Yang selalu teertawa dalam setiap langkah-langkahnya
    Meski derap-derap kehidupan begitu keras menghujamnya
    Mereka, dengan segala keluguan dan kepolosannya
    Mencoba untuk tetap bertahan

    Mereka yang selalu riang dalam kesedihannya
    Yang selalu gembira dalam kegelisahannya
    Mereka dengan segala keterbatasannya
    Mencoba untuk tetap tegar

    Mereka adalah
    Malaikat-malaikat kecil yang Allah kirimkan ke dunia

  38. Tolong jangan sebut kami tak cinta Indonesia,
    Hanya karena kami tak pasang bendera
    tak ada merah putih di gubuk kami
    uang menipis, dan kami tak mau mengemis
    untuk makan keluarga pun tiada sisa
    bagaimana mau beli merah putih?
    kalau di rumahpun tak ada nasi putih?

    Tolong jangan bilang kami separatis
    hanya karena kami tak sempat hormat bendera
    dua tangan kami sedang terpakai
    angkat kerja tuk makan keluarga..
    kalau pakai kaki, nanti kau kata menghina

    Tak usah kau kata kami bukan orang Indonesia
    hanya karena kami tak nyanyi Indonesia Raya
    Bagimu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa
    seharian kami bekerja teriak sana teriak sini,
    habis sudah suara kami, serak parau seperti ,
    kalau dipaksa menyanyi, nanti kau kata mengacau

    Kami tetap Indonesia, dan kami cinta Indonesia
    Jika hanya ini yang kami bisa
    semoga kawan sudi memahami

  39. Ketika Hujan

    Ketika mendung hadir tanpa semarak awan…
    ketika kilat adalah kelebat-kelebat gelap…
    ketika petir tak lagi teriakkan gelegarnya…
    ketika hujan turun tanpa air setitikpun…
    ketika pelangi hanyalah hitam di angkasa…

    dan kita hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa
    dan memukul-mukul dada kita yang kian sesak
    sabar… sabar… sabar…
    namun hujan justru kian membadai

    Malang, di sebuah sudut dengan komputer
    30 Oktober 2009 21:38

  40. ASA

    Akankah bunga tetap menjadi bunga?
    Tegak mewangi meski panas menerpa
    meski Habis kering airnya terbang ke angkasa
    Atau tunduk layu tiada asa?

    Akankah bunga tetap menjadi bunga?
    teguh tabah kala ulat-ulat memakannya
    Sisakan gurat-gurat luka tiada tara
    Atau pasrah menyerah lalu binasa?

  41. MERENUNG SEJENAK

    Kawan, Pernahkah kita merenung?

    Kenapa Rasulullah disuruh mengangkat tangan ke angkasa
    Lalu terbelah-lah bulan patah jadi dua
    Kenapa tidak langsung saja Allah membelahkan bulan untuknya?
    Bukankah hal itu teramat mudah bagi-Nya??

    Kenapa Nabi Musa disuruh melempar tongkatnya
    Lalu jadilah ular besar memangsa ular penyihir musuhnya
    Kenapa tidak langsung saja Allah melenyapkan ular untuk Musa?
    Bukankah ini hal yang teramat mudah bagi-Nya?

    Kenapa Nabi Musa disuruh memukul tongkatnya ke samudera
    Lalu terbelahlah laut merah tuk dilewatinya
    Kenapa tidak langsung saja Allah membelahkan untuk-Nya?
    Sungguh ini pun teramat mudah bagi-Nya?

    Kenapa Nabi Nuh disuruh membuat sebuah bahtera
    Lalu selamatlah ia dalam adzab banjir luar biasa
    Kenapa tidak langsung saja Allah menyelamatkannya di Hari H?
    Sungguh ini pun sangat mudah bagi-Nya?

    Secuil dari segunung Ibrah yang kita ambil dari kisahnya
    bahwa Tetap Harus Ada Ikhtiar manusia,
    bahkan dalam Mukjizat ajaib luar biasa
    Jika mereka rasul mulia, beserta mukjizatnya,
    Apalagi kita? Manusia biasa tempat salah dan lupa..

    Sungguh ada banyak ibrah dalam setiap kehendak-Nya
    Dalam setiap ayat -Nya, dalam setiap ciptaan-Nya
    Sudahkah kita merenunginya??

    Malang, 12 Oktober 2009
    Ketika badan yang besar sedang dilumpuhkan
    oleh sebuah virus mikro bernama inFluenza

  42. Seorang Anak Pencari Rumput di Sukarno Hatta

    disuatu siang di kota Malang tanpa awan
    seorang anak kecil berjalan dari Jembatan
    kusam muram wajahnya tanda kelelahan
    ah mungkin saja baru-lah ia pulang dari sekolahan
    menuntut ilmu, kata orang tuk masa depan

    tak peduli terik menyengat menguras keringat
    walau waktu dhuhur pun sudah kian dekat
    Tak kuat ia berjalan makin cepat,
    sebilah sabit ia pegang dengan erat
    sehelai karung ia seret bersama langkah berat

    Ya, inilah anak SD pencari rumput tuk makan ternak nya

    ah bocah pencari rumbpt itu,
    Ini kota gersang, mana ada rumput kan kau temui?
    Ada memang, tapi itu di halaman-halaman kampus elit nan mahal
    Masuk pun kau akan terasa gatal-gatal
    ada pula di rumah para pejabat dewan yang “terhormat”
    Jangankan kau menyabit, masuk saja kau kan ditendang

    Ah kasihan benar kau nak,
    usiamu masih belia, namun kau tak bisa ceria
    Jika tak ada kau, mau makan apa kambing dan sapi keluarga?
    di kala anak-anak lain asyik dengan Play Station, XBox, dan sederet mainan canggih mereka
    ditemani AC, dan setumpuk camilan supermarket
    disertai belaian ibunda tercinta…
    Namun kau, sepulang sekolah, berjalan dengan sandal jepit kecilmu,
    susuri kota yang panas terik, dan kaupun pasrah bak putus asa
    dengan langkah lelah kau cari sekarung rumput di tengah kota…
    Ah… kasihan benar kau nak,

    Ah, tapi biarlah, semoga dengan itu kau lebih cepat dewasa
    dengan itu, kau akan tahu hidup yang sebenarnya
    semakin sebuah besi ditempa, semakin kuatlah ia..
    karena kelak, kaulah yang kan gantikan orang-orang dewasa,
    kau ganti mereka mengurus negara Indonesia

    Jujurlah nak, baktikan dirimu jadi orang berguna
    kelak jadilah pemimpin negara yang shaleh dan bersahaja
    Dan jika ada masanya, sempatkanlah lewat di jembatan kita
    dan akan kau ingat, bahwa pernah di siang sebelum dhuhur tiba
    kaupergi mencari rumput tuk ternak keluarga
    dengan sebilah sabit, dan karung di tangan legam hitam

    Semangat ya nak, moga kelak hidupmu senantiasa dalam petunjuk-Nya

    Malang, 23 Oktober 2009 00:38 am
    Teruntuk adek pencari rumput yang lewat depan Eramedia
    di sebuah siang yang panas, di Sukarno Hatta

  43. SERIGALA

    negeri ini milik serigala lapar
    hari ini kau disebutnya kawan,
    dirangkul kau seolah pahlawan
    Esok hari kau kau jadi sarapan
    tinggal tulang-tulang berserakan

    Kita hanya kelinci-kelinci mungil di padang Indonesia
    tak peduli apapun warnamu, coklat, putih, hitam, abu-abu
    merah, hijau, kuning, atau biru
    kita tetap kelinci-kelinci mungil di padang Indonesia
    Hari demi hari kita hanya menanti dimangsa
    Hari ini teman kita, esok saudara kita, lusa kita yang kan dimangsa

    Serigala-serigala yang buas lapar tak kenal kenyang
    Mau kau beri satu kelinci, dua, tiga, atau bahkan sejuta
    serigala tetap merasa lapar

    Kini masalahnya adalah…
    Maukah kita kini menegakkan telinga,
    Tunjukkan gigi seri kita,
    berbaris dengan bangga
    lalu teriakkan
    LAWAN!!!

    malang 27 agustus 2009

  44. MENANTI

    kan kunanti semesta bermandi cahaya
    dalam negeri berjuta warna,
    berjuta suara..
    berjuta rasa..
    berjuta asa..
    dan trilyunan cahaya..

    kan kunanti semesta bermandi cahaya
    meski dalam raga penuh tekanan,
    meski dalam jiwa penuh himpitan,
    dan akal yang tak pernah diam..
    kan kunanti dengan dua buah kata
    harapan, dan perjuangan…

    kan kunanti semesta bermandi cahaya
    Lalu berjuta cahaya kan turun melingkupi
    untuk ku, untuk kita, untuk negeri ini
    bersama dengan alunan semilir pagi hari
    karena ku ingin untuk tetap berarti…
    kemarin, sekarang dan nanti…

    malang agustus 2008

  45. UNTUK SEBUAH JIWA

    Ketika lisan mulai berkeluh kesah
    tentang fisik yang lelah
    dan pikiran yang kalah, membuncah
    maka saatnya kita bertanya
    bermuhasabah…
    atas jiwa yang mulai lemah

    bukan raga yang lelah
    bukan pula akal yang kalah
    namun semua bermula dari jiwa
    mungkin kita sudah lupa
    atas berapa jiwa yang bersimbah darah
    tertumpah,
    dan pecah…

    atau mungkin kita sudah lupa
    atas berapa tangan yang menengadah
    sambil berkata, “kami terpaksa meminta sedekah…”
    padahal di tetangga sebelah
    beragam makanan mewah menjadi sampah
    mudahnya berkata, “ini hasil kami jerih payah”

    jutaan ummat berharap, menengadah
    menoleh, dengan raut penuh harap, berkata
    “wahai pemuda, keluar keluarlah
    kami yang terdzalimi adalah lemah.
    bantu kami, untuk akhirat kalian
    kelak kami kan menjadi saksimu
    untuk sebuah jannah…”
    insya Allah

    malang 10 agustus 2008

  46. LIFE AND COMPUTER

    Life is not like a computer

    You can’t undo what you have done

    You can’t backspace the word you’ve said

    And There is no Ctrl+Alt+Del button to restart all the thing in your
    life

    –dihas–

  47. Ade Amadah Says:

    Tanpa Jawaban

    Bagai bertanya dengan patung
    Dia hanya terdiam membisu
    Jawabanpun tak ku dapat
    Dari mulutnya yang terkunci rapat
    Jangankan satu jawab
    Senyumpun tak ku lihat
    Dari wajahnya yang terlihat penat
    Akupun melihat dia dengan cermat
    Di sana di wajahnya yang penat
    Ku temukan sesuatu yang indah
    sesuatu yang tersirat dan tak bisa ku ucap
    walau tanpa jawab darinya

  48. Ade Amadah Says:

    RINDU MASA ITU

    Ku rindu masa itu
    Ketika aku menangis
    Kau peluk aku
    Dengan belaian tangan lembutmu

    Ku rindu masa itu
    Saat ku terjatuh
    Kau bangunkan ku
    Dengan senyuman manis terukir di wajahmu

    Ku rindu masa itu
    Ketika ku rapuh
    Kau kuatkanku
    Dengan do’amu

    Ku rindu masa itu
    Masa dimana ku bisa bersamamu
    Berbagi kebahagiaaan
    Berbagi kesedihan

    Ku rindu masa itu
    Masa dimana ku bisa melihat
    Wajah teduhmu
    Yang penuh kedamaian

    Ku rindu dirimu
    Duhai orang yang telah membesarkanku
    Nantikan ku disampingmu
    Kan ku peluk erat tubuhmu

  49. Ade Amadah Says:

    Dari Sudut Jendela

    Ku rebahkan badan
    Tengadah ke langit-langit kamar
    Menari di atas angan
    Bermain rambut yang sedikit ikal

    Dari sudut jendela
    Mata memandang
    Langit luas diangkasa
    Berhiaskan rembulan

    Bulan oh bulan
    Malam ini kau jadi purnama
    Sungguh sinarmu begitu rupawan
    Hingga malam tak terasa suram

  50. Ade Amadah Says:

    Sekawanan Kucing

    Sekawanan kucing
    Menyelinap…..
    Menerobos lubang di sudut atap
    Karena penciumannya yang tajam

    Dari kamar ku mendengar
    Gaduh suara bak sampah yang tumpah
    Hanya demi tulang ikan
    Gelap malam tak jadi penghalang

  51. Ade Amadah Says:

    Hakikat hidup

    Siang kau jadikan ratapan hidup
    Malam kau jadikan penyuci diri
    Pagi kau jadikan sesuatu
    tuk memperhias diri

    Pernahkah kau tersadar
    Semua itu kan sirna
    Meninggalkan dirimu
    Sendiri menjalani hari

    Melainkan keikhlasan
    Yang masih melekat
    Dalam dirimu
    Memaknai hakikat hidup di alam ini

  52. Ade Amadah Says:

    Jangan Hanya Bicara

    Jangan hanya bicara
    Jika tak mau melihat orang menderita
    Jangan hanya bicara
    Jika tak mau ada lagi darah yang tertumpah

    Ribuan nyawa telah musnah
    Ribuan orang pula menangis darah
    Jangan hanya bicara
    Jika ingin kedamaian dunia

    Bangkit, ulurkan tanganmu
    Lebur jiwamu jadi beringas
    Ombak laut lepas
    Bantai musuh hingga musnah tak tersisa

  53. Ade Amadah Says:

    Selamanya

    Sinar mentari begitu cerah
    Saat melihat dirimu ceria
    Langitpun tak kan mendung
    Saat melihat dirimu tersenyum

    Tak bosan-bosan ku mamandang wajahmu
    Walau seribu abadpun
    Bayang wajahmu takkan pernah sirna
    Selalu membekas dalam ingatanku

    Duhai orang yang telah membutakan hatiku
    Karena keindahan akhlakmu
    Adakah cinta untukku
    Agar ku bisa bersamamu
    Selamanya…..

  54. pengharap Ridho Allah Says:

    Jiwa yang Mendamba Cinta

    Saat terbuka tirai mimpi
    Raga seakan-akan mati

    Di kala jiwa mengembara sepi
    Entah apa yang dicari??

    Jiwa yang mendamba cinta
    Mungkinkah cinta yang dicari??

    Bukan…
    Bukan dengan cara itu
    Wahai engkau jiwa

    Bukalah mata duniamu
    Dan tutuplah tirai mimpi
    Jangan kau terbuai…

    Dengarkanlah…
    Wahai engkau jiwa
    Jiwa yang mendamba cinta

    Dengarkanlah…
    Desir angin
    Tengah berbisik lembut
    Di telinga ragamu

    “wahai engkau jiwa…
    yang mendamba cinta,
    sesungguhnya…
    apa yang kau cari ada padamu.
    Itulah cinta,
    Cinta yang kau damba”

    Kau dengar jiwa…??

    Kini…
    Pergilah engkau
    Kepada sang pemberi cinta

    Dia tahu
    Kau mencariNya

    Dia juga tahu
    Kau mendambakan cintaNya

    Serahkanlah dirimu
    Sepenuhnya…
    Maka,
    Dia akan menyerahkan segenap cinta
    Untukmu

    Lihatlah dirimu
    Itulah cintaNya padamu

  55. pengharap Ridho Allah Says:

    Saat Aku Pergi

    Jika esok kau tak bertemu denganku
    Jangan kau bertanya,
    ke mana aku??

    Jika esok aku tak menjumpaimu
    Tak perlu kau bertanya,
    Mengapa aku??

    Jika esok aku tak hadir untukmu
    Tak usah pula kau bertanya
    Ada apa denganku??

    Karena, sesungguhnya
    Aku selalu bersamamu
    Aku tak ke mana-mana

    Aku tak apa-apa
    Dan tak ada sesuatu apapun
    yang terjadi Padaku

    Hanya saja
    Mungkin kau tak melihat ku
    Namun…
    Kau bisa merasakan kehadiranku

    Tapi yakinlah …
    Bahwa aku melihatmu

    Aku akan datang sebagai angin
    Di mana kau tak bisa melihatku
    Tapi kau merasakan kehadiranku

    Kan kubawakan
    Angin surga untukmu

  56. pengharap Ridho Allah Says:

    Pagi yang Fitri

    Wangi aroma embun pagi
    Mengantarkan diri
    Menuju pagi yang fitri

    Aku masih di sini
    Di sudut kamar ini
    Merenungi dan mengingat kembali

    Apa yang telah kudapati???
    Selama sebulan ramadhan ini

    Kesucian diri…???
    Kejernihan hati…???
    Atau semua terlewati…???

    Ramadhan kini telah pergi
    Berganti dengan hari yang fitri
    Hari yang dinanti-nanti
    Oleh insan-insani
    Di seluruh negeri
    Kami menyebutnya idul fitri

  57. pengharap Ridho Allah Says:

    Sang Penyejuk Hati

    Sekian lama aku menanti
    Wahai engkau sang penyejuk hati
    Setelah lama hati ini mati
    Kini dihidupkan kembali
    Rabbi…
    Kau pertemukan aku lagi
    Dengan Ramadhan yang suci
    Inilah waktuku menata diri
    Menjag hati
    Dan lahir kembali
    Menjadi pribadi yang fitri
    Rabbi…
    Do’aku tak pernah henti
    Hanya satu yang kuingini
    Hanya Ridho-Mu ilahi Rabbi

  58. -> Sebait Kata Untuk Awan… <-

    Hi awan turunlah sejenak, jadilah hujan
    Sentuhlah gemersang tanah jiwaku
    Alirilah aku dengan airmu dan bawalah dingin
    Bawalah gemuruh dan gelora merah menuju lautan lepas

    Hi awan sapakan mentari
    Untukku…
    Katakan padanya
    Aku rindu…

    [Dieng, 17 Februari 2007]

  59. Ibu Ijinkan Aku Jadi Umar

    Ibu, ikhlaskan putramu tuk mengabdi
    Tuk berbakti tegakkan Dien ini
    Ijinkan putramu katakan kebenaran
    musnahkan penyembahan dari sesama
    tuk hanya Rabbul ‘Izzati semata

    Ibu, putramu tak inginkan istana
    sebagaimana Al Faruq tak miliki istana
    atau Umar bin Abdul Aziz yang menolak singasana
    putramu hanya inginkan Surga dan Ridho-Nya

    Ibu, putramu sedang diuji
    sebuah amanah telah memanggil
    tuk menjadi panglima..
    tuk menjadi calon-calon syuhada..

    Ibu, Ijinkan aku tuk jadi Umar
    Tuk hasilkan sebuah mahakarya
    Layaknya Al Faruq bebaskan Palestina
    Atau Umar kedua makmurkan rakyatnya
    Putramu ingin berkarya

    Meski ku tahu itu tanpa harta,
    Apalagi dunia

    Al Faruq yang kokoh dan bijaksana
    yang namanya gentarkan kaisar Roma
    yang mbuka kunci negeri Anbiya

    atau juga Umar kedua
    Umar bin Abdul Aziz yang adil dan terjaga
    yang mampu sejahterakan rakyatnya
    tiada miskin di dua pertiga dunia

    Ibu… doakan putramu
    tuk bisa menjadi Al Faruq
    tuk jadi Umar bin Abdul Aziz
    Ibu… doakan putramu

    Malang, 27 Februari 2007 23.10
    seusai didaulat menjadi “panglima”

  60. Menjahit Jalinan Perca

    tersaji lengkap dihadapan kita
    ada polymer, ada katun, ada sutra
    ada pula goni, kertas, bahkan daun pisang,
    kain kasa yang terawang pun tersedia
    plastik, kertas, aluminuim foil pun ada
    pokoknya lengkap semua bahan ada

    lalu segala warna yang tersedia
    ada yang merah, putih, dan abu-abu
    atau hijau daun dengan setitik lubang goresan,
    ada yang mengkilat ditempa cahaya,
    ada yang legam hitam dan kusam
    pokoknya lengkap semua warna ada

    lalu segala corak motif pola
    kotak-kotak yang tegas, polkadot yang ceria
    garis-garis, segi enam dan segi lima
    ada juga yang bunga-bunga, segala bunga
    ada juga yang gambar batik, segala jenis bentuknya
    motif safari, bintang-bintang, gambar sapi juga ada
    pokoknya lengkap semua motif ada

    Hingga ketika tahun-tahun itu tiba
    lahirlah sekelompok manusia-manusia cahaya
    tanpa diminta, perca-perca itu dijahitnya
    dengan jarum darah pengorbanan dan keikhlasan
    dalam jahitan potongan-potongan perca yang merdeka
    dijahit kita dengan benang-benang persatuan
    jahitan ukhuwah, saling bantu antar sesama
    bordir kesopanan, sulam senyuman, dan obras kejujuran

    lalu berubahlah tumpukan perca itu
    menjadi apa yang kita saksikan sekarang
    INDONESIA

    Malang 5 November 2009
    di sela-sela kesibukan

  61. UNTUKMU, DARIKU

    Nafasku,sudah panjang
    Umur mulai terasa tua
    Terima kasih masih disini
    Menopang setiap langkah tertatihku

    Ilmu telah banyak tercerap
    Sayang telah tumpah teruah untukku
    Terima kasih masih disini
    Memberikan senyuman termanis untuk obati perihku

    Pengalaman datang silih dan berganti
    Kisah pedih, sedih, bahagia belum lengkap tertulis
    Tapi terima kasih masih disini
    Mengangkat tangan memanjatkan doa,
    Memohonkan ampun untukku

    Dengan segenap hormat dan cintaku
    Seluruh organ tubuhku
    Seluruh ruh dan jiwaku
    Ibu,
    Maafkan aku,
    Tetaplah disini…
    Menyayangiku…..
    Blitar, Sept 30th 2005

  62. Maaf Untuk Kawan

    Seperti hilang di tengah pertemuan kita, jasadku ada namun penghayatanku hilang.
    Karena… pernahkah dirimu merasakan senyum itu mahal?
    Ya, senyum itu amat mahal saat duka merasuki semesta hati. Pahit, pilu, resah, gelisah yang kurasa.

    Menatap wajahmu, tak seperti menatap orang yang kukenal
    Kehadiranmu, seperti sekilas suara yang kudengar, lalu lupa

    Kawan, betapa baru sadarnya diriku atas lukanya hatimu karenaku.
    Alangkah pantasnya engkau harus membalasku.
    Kuingkari arti senyum tulus yang kulihat dari wajahmu, pernah sampai tak kuanggap penting.

    Padahal kawan, engkau melihatku bermuram durja.
    Wajahku yang berbalik arah dari wajahamu yang ramah.
    Lama sudah kita terikat bersahabat.

    Namun pernah suatu saat aku lepas dari hidup yang wajar, memilih menghindar, lupa berterima kasih, bermasam muka, tak kenal arti memberi, memuncak emosi, sedikitnya peduli, tapi engkau wahai kawan… pernah sabar menghadapi salah-salahku… kuhatur maaf, maaf tulus kepadamu kawan

    Atas pengakuan ini… kuharap akan kulihat lagi binar semangat di bola mataku, menghayati lagi arti sahabat, bersama lagi berlari menembus segala batas, untuk sebuah cita-cita… engkau dan aku akan meraih syurgaNya..

    Malang, 5 November 2009

  63. MENJAWAB CINTA

    Derita seorang lelaki ketika kerasukan sang Adam
    Sepi, sunyi, menjerit keras! Alam pun menutup telinga

    “Ya Allah…” lirihnya. Lafaz agung wujudkan jarak tegas
    Antara mengeluh kepada Makluq atau kepada Sang Khaliq

    Rintihan murni beratnya menahan rusuk
    Agar tak menjelma Hawa sebelum waktunya
    Agar ia menjadi seutuhnya Adam bagi sang Hawa.

    Engkau wahai lelaki!

    Berilah sedikit ruang dalam hatimu untuk dengarkan nyanyian lembut
    Yang termaktub di atas kanvas teragung dari Penggenggam segala rahasia

    Tenanglah… ambillah perlajaran cinta dari Ibrahim
    Tatkala cobaan cinta datang, perintah Allah hadir untuk satu jawaban

    Seperti apa cinta hakiki itu?

    Sungguh lisan tak berdaya berkata, tulisan tak mampu menerjemahkannya
    Hanya cobaan, yang akan menjawab dimana bukti cinta

    Dan Ibrahim lebih memilih perintah dari pada logika, akhirnya pun Ibrahim tetap mendapatkan Allah dan buah hatinya.

    Adam tak berdosa jika hati terbit rasa cinta
    Hanya saja sang Adam, perlu memetiknya saat tiba masa panennya

    Malang, 5 November 2009

  64. Kawan dan Cinta

    Hei kawan katakanlah…
    Kalau kau memang mencintai-Nya
    Bukan kah kau telah mengenal-Nya?
    Dalam setiap udara dan detak nafas yang kau hembuskan

    Hei kawan Ingatlah selalu Dia
    Kalau kau memang mencintai-Nya
    Bukankah kau banyak mendengar nama dan kebesaran-Nya?
    Dalam setiap azan yang berkumandang

    Hei kawan sapa lah Dia selalu…
    Kalau kau memang mencintai-Nya
    Bukankah kau sering bertemu dengan-Nya?
    Dalam setiap rukuk dan sujud mu 5 waktu

    Hei kawan lakukanlah yang di kehendaki-Nya
    Kalau kau memang mencintai-Nya
    Bukankah puncak cinta pada penghambaan?
    Pada semua yang kau katakan, ingat dan sapa

    04
    November
    Bohong tak cintaiku
    Label: My Poet komentar (0)

    Bohong tak cintaiku

    Bohong bila kau tak cintaiku..
    Bukankah menjauh itu artinya cinta bagimu?
    Walau tak kau katakan dengan bibirmu
    Tapi kutahu dibalik itu semua

    Bohong bila kau tak cintaiku..
    Entah dari mana rumus ungkapan cintamu itu
    Bukankah itu fitrah dan tak ada salahnya
    Mengatakan kau cintaiku?

    Bohong bila kau tak cintaiku..
    Getaran itu selalu ada dan kurasakan
    Dalam prilaku mu
    Walau ku tak melihatmu

    Bohong bila kau tak cintaiku..
    Bukankah jiwa itu layaknya sebuah puzzle
    Yang sedang menyusun
    dan mencari potongan-potongan lainnya

    Bohong bila kalau kau tak cintaiku
    Walau kau tak berikan diary mu
    Tapi ku bisa membacanya
    Dalam jiwa mu yang membuncah kannya

    Bohong lah cinta ini…
    Bila ia menjadi penjara bagi kehidupan
    Kebebasan yang menjerumuskan
    Bak pemabuk yang tak pernah merasa bersalah
    Dan tak sadar kalu dia mabuk

    04
    November
    Kehidupan dan Bintang
    Label: My Poet komentar (0)

    Kehidupan dan Bintang

    Beginilah kehidupan…
    Selalu merasa tergesa-gesa
    Tapi tak mendapat apa-apa
    Rasanya tidak ada yang perlu dikejar dan yang mengejar
    Yang ada adalah diri yang tak sabar merangkul bintang
    Hingga orang lain telah di bintang
    Sebagian lain masih dibumi yang miskin
    Karena tergesa-gesa tanpa pengetahuan sedikitpun tentang bintang

    Beginilah kehidupan…
    Selalu menunggu
    Tapi selalu tertinggal dungu
    Rasanya sudah cukup dalil filosofi
    Pemuas oral tak kunjung usai
    Tapi ya hidup tetaplah hidup
    Karena selalu menunggu ada kata sama, serupa, tidak berbeda..
    Hingga orang lain telah mengunjungi seribu bintang
    Sementara sebaigiannya tertinggal di bumi yang mau mati
    Ya karena tak menemukan dalil yang sama persis untuk bergerak kedepan
    Atau karena tidak mau sepakat dengan persamaan yang telah jelas?

    Oh… beginilah seharusnya hidup didunia
    Sebenarnya… tidak ada herder yang mengejar
    Sehingga perlu lari tanpa tujuan dan arah yang jelas
    Bintang pun tak jelas berada dimana dan bagaimana kesana

    Sebenarnya… tidak ada yang perlu ditunggu sama persis
    Karena telah jelas ada persamaannya
    Tinggal bagaimana melangkah harmoni
    Berjalan-jalan menziarahi seribu bintang

    Yayayaya… seperti inilah dunia dan kehidupannya
    Tidak menunggu juga tidak tergesa-gesa untuk dikejar

    By : Jiwa Tak Pernah Mati 110809, Malang

    04
    November
    Kekasih Hati, Dinanti
    Label: My Poet komentar (0)

    Kekasih Hati, Dinanti

    Aku tak menunggu janji-janji esok dan nanti
    Karena sebenarnya ku sedang menanti
    Datangnya kekasih yang selalu kunanti

    Ku hias diri dan ku tata hati setiap waktu berganti
    Demi kekasih, maha suci yang selalu ku nanti
    Karena ku tak tau kapan datangnya kekasih yang dinanti

    Hanya saja ku selalu menyebut dan memuja dirinya sambil menanti
    Walaupun ku tak tau berapa lama atau sebentarkah ku menanti
    Tetapi kekasih ku itu selalu dihati

    Hingga tak ada satu pun yang mampu menyamai kekasih hati
    Ia selalu merasuk kerelung hati
    Apapun yang Ia sukai dan Ia benci pasti ku taati

    Rasanya cinta telah terpatri dalam hati
    Tak peduli apakah jasad ini akan mati
    Tetapi jiwa ini tak pernah mati

    Demi pertemuan abadi bersama kekasih hati, dinanti

    (Oleh : Ridho Hudayana)

    04
    November
    PERJUANGAN HARI INI
    Label: My Poet komentar (0)

    PERJUANGAN HARI INI
    By : RIDHO HUDAYANA

    Perjuangan hari ini tidak membutuhkan retorika tanpa pemahaman dan aplikasi
    Perjuangan hari ini tidak membutuhkan make-up indah tanpa esensi
    Perjuangan hari ini tidak membutuhkan kegemerlapan action tanpa orientasi yang jelas
    Perjuangan hari ini tidak membutuhkan kata setuju tanpa dukungan
    Perjuangan hari ini tidak membutuhkan kader yang banyak tanpa kepribadian

    Perjuangan hari ini haruslah berdasarkan pemahaman dan aplikasi yang komunikatif
    Perjuangan hari ini haruslah bermakna dan memaknai yang bersumber dari esensi
    Perjuangan hari ini haruslah dengan orientasi yang menggerakkan dan menginspirasi
    Perjuangan hari ini haruslah dengan loyalitas dan komitmen bergerak dan menggerakkan
    Perjuangan hari ini haruslah melahirkan kader berkepribadian integritas

    Sudah waktunya untuk segera meninggalkan kesalalahan-kesalahan pemahaman aplikasi perjuangan sesaat yang kehilangan esensi serta orientasi. Yang diemban oleh kader yang rapuh kepribadiannya. Pada masa lalu yang sangat jauh dan menjadi penguat perbaikan hari ini

    Sudah waktunya untuk segera bergerak dan menggerakkan perjuangan abadi ini dengan orientasi pemahaman terhadap aplikasi berenergi esensi dengan loyalitas dan komitmen kader yang berkepribadian integritas, untuk menyambut kemenangan sejati dan abadi

    04
    November
    IDEALISME TAGHUT
    Label: My Poet komentar (0)

    IDEALISME TAGHUT
    AL-Ghadab
    Apakah artinya bagimu idealisme itu?
    Kebekuan berfikir ataukah idealisme?
    Miskin kreativitas ataukah idealisme?
    Malas bergerak ataukah idealisme?
    Malas berfikir ataukah idealisme?
    Ketergantungan ataukah idealisme?

    Idealisme yang mana kau bawa?
    Pemikiran orang lain ataukah idealisme?
    Ketakutan sistim ataukah idealisme?
    Menutupi kelemahan ataukah idealisme?
    Atas nama profesionalisme ataukah idealisme?
    Karakter yang mati ataukah idealisme?
    Kekerasan hati ataukah idealisme?

    Apakah pembenaranmu atas nama idealisme?
    Apakah itu semua kau artikan idealisme?
    Bahkan ketakutan system itu
    Kau artikan idealisme?
    Dan kau atas namakan profesionalisme?

    Itu bukan idealisme!!!
    Tapi itu adalah taghut saudara!!!

    28
    Oktober
    Bersumpahlah PEMUDA
    Label: My Poet komentar (0)

    Bersumpahlah PEMUDA

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada pemuda, kecuali progress
    Bebas dari kesia-siaan dan kenistaan

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada tanah air, kecuali merdeka sempurna
    Bebas memilih dan berkehendak merdeka

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada budaya, kecuali kejujuran dan keadilan
    Bebas dari kemunafikkan dan kezoliman

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada kepribadian, kecuali pribadi mulia
    Bebas dari psikopath dan hina

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada persatuan, kecuali kejayaan
    Bebas dari pertikaian dan kecurigaan

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada teritori, kecuali kekayaan mutlak
    Bebas dari eksplorasi penjajah dan pengkhianat

    Bersumpah lah pemuda pemudi Indonesia
    Tidak ada hidup, kecuali tak pernah mati
    Terbebas vonis mati kreativitas keabadian

    25
    Agustus
    Jawablah !!!
    Label: My Poet komentar (2)

    Jawablah !!!

    Katanya merdeka.. kok masih dijajah?
    Katanya kaya kok bak tikus mati di lumbung padi?
    Katanya berketuhanan, kok amoral? Dimana tuhannya?
    Katanya berkemanusiaan, kok saling membunuh dan memakan saudara?
    Katanya bersatu, kok saling bertengkar dan mudah diadu domba?
    Katanya demokrasi, tapi kok kebablasan?
    Katanya Adil, tapi kok memihak dan medholimi sebagian dan sebagian yang lain
    Dengan atasa nama rakyat?

    Oh… katanya… katanya…
    Jangan-jangan Indonesia itu juga katanya???

    Dulu penjajahan itu datang sendiri, tanpa diminta
    Tapi sekarang kenapa diminta datang? Dan menjajah?
    Dulu hingga sekarang Negara kita kaya…
    Kenapa kemiskinan dimana-mana sementara penjajah kaya?
    Dulu orang korupsi, zina, mabuk, merunduk-runduk
    Sekarang berdiri bangga tanpa dosa melainkan berpahala
    Mungkin tuhan sedang tidur???
    Rasanya saat ini saling membunuh dan menjatuhkan orang lain sudah biasa
    Sehngga manusia tak memiliki makna
    Tatanan masyarakat kita dulu mengajarkan kesolidan dan persatuan
    Ya mungkin orang sekarang hanya bisa berkata, itu kan dulu…
    Karena mungkin cinta telah hilang didada untuk bersatu
    Berapa banyak demokrasi brutal hari ini mengorbankan rakyat penuh harap?
    Atas nama keadilan, benar bisa jadi salah, salah bisa jadi benar..
    Dilindungi pula oleh serangkaian maker…

    Indonesia… oh… Indonesia….
    Apakah kau terlalu uzur untuk berubah?

    25
    Agustus
    MERDEKA
    Label: My Poet komentar (0)

    Merdeka!!!
    Tak perlu diajarkan lagi definisi itu..
    Anak baru lahir pun tau definisinya itu..
    Merdeka!!!
    Cukup kering liur berdebat dan berdeskusi tentang itu..
    Tak ada mulut yang tak bisa berdebat dan berdiskusi tentang itu..
    Merdeka!!!
    Ajarkan kita untuk bebas menentukan siapa diri kita
    Tapi apakah mengikut adalah bagian dari itu ya???
    Apakah membebek ikut induk kapitalis itu merdeka???
    Merdeka!!!
    Bebas dari semua ketergantungan yang membunuh
    Tapi masalahnya kita tidak sadar kita tengah dibunuh
    Dengan cover modernisasi dan globalisasi
    Merdeka!!!
    Bebas dari mengimpor budaya hedon
    Atas nama style, generasi menjadi korban
    Negara kehilangan generasi
    Merdeka!!!
    Bebas dari korupsi keserakahan
    Yang melahirkan kesengsaraan
    Tindak penjajahan baru bagi bangsa ini
    Merdeka!!!
    Bebas menghancurkan musuh-musuh mental
    Bebas membunuh penyakit-penyakit bangsa
    Bebas membangun bangsa mandiri yang adil dan sejahtera
    Dengan pemurnian penyembahan dan atas rahmat Allah swt.

    23
    Juli
    Label: My Poet komentar (0)

    ASERTIF*

    Sudahlah, jika kau ingin pergi
    Pergi saja!
    Jika kau sudah tak ingin
    Mengapa harus mau?
    Jika kau sudah tak punya cinta disini
    Mengapa kau terpaksa disini?
    Jika kau sudah tak komit lagi disini
    Mengapa kau harus merusak diri
    Dan orang lain disini?
    Keluarkan saja 1000 apology
    Sebagai pembenaran dari perutmu
    Hingga tubuhmu kurus kerontang
    Dengan semua tulisan dan perkataan
    Apology pembenaranmu yang salah

    Sudahlah, apa yang kau harap lagi disini?
    Keluarlah! Jika dirimu ingin pergi, sudah tidak mau,
    Sudah tidak komit dan sudah tidak cinta lagi disini.
    Keluarlah! Jika kau sudah tidak punya realita,
    Ruang dan waktu lagi disini!
    Sudah, keluarlah dari sini!
    Karena tidak ada yang hidup disini
    Dengan cinta manja, komitmen setengah hati,
    Dan mengharapkan perhatian yang terlalu
    Tanpa bergerak dan ketaatan
    Pilihlah jalanmu!
    Apakah kau masih ingin, komit, mau, dan cinta?
    Jika ya, maka tetaplah disini!
    Jika kau sudah tidak ingin?
    Maka keluarlah dari sini selamanya!
    Kecuali kau masih punya cinta yang membara disini!

    *Oleh Ridho Hudayana (Mahasiswa Fak. Psikologi UIN Malang ’05) yang saat ini diamanahi sebagai Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Komisariat UIN Malang 2006-2007

  65. Sahabat…..

    dulu kata ini begitu berarti bagiku..
    segalanya ku coba lakukan untuk satu kata ini
    sebuah persahabatan..
    tapi ternyata jalannya begitu berkerikil..
    bukan cuma kakiku yang lunglai dan terluka..
    jauh di lubuk hatiku menyimpan banyak kecewa..
    meski memang sering kali tawa melerai
    senyum mengembang..
    tapi baru ku sadar,,
    ternyata pertemanan juga indah..
    dan lebih ringan di hati..
    tidak membebani
    lantas ku pilih berteman dengan siapa saja..
    ku berikan apa yang ku punya
    ku telan caci maki mereka
    tak ku hiraukan bila ada gundah
    biarlah semua berjalan
    toh hanya teman biasa..
    bertemu hanya kini.. esok juga kan pergi..
    kemudian justru ku rasakan persahabatan
    mengalir dari mereka yang tak tersebut namanya..
    yang menyantuniku dengan ketulusannya..
    membuat hatiku tersenyum dan..
    mereka yang tak pernah memintaku sebagai sahabatnya..
    juga diriku.. membiarkannya mengalir..
    tapi justru ia mengalir di hatiku..
    menyapaku..
    ku pun segera terbangun..
    beginilah.
    biarkan saja semua berjalan..
    lakukan kebaikan apapun yang kau bisa…
    bukan untuk mengharap sesuatu
    meskipun hanya persahabatan..
    ku ingat saja sebuah petuah :
    bahwa formula kegagalan adalah saat kita ingin menyenangkan semua orang
    biarlah bila da yang memaki..
    selamanya kita tak akan mampu menutup mulut mereka yang berkata
    hingga mereka tiada
    hanya lakukanlah yang baik
    dan biarkan semuanya mengalir..
    karena begitulah juga nantinya persahabatan
    akan diuji oleh derasnya aliran dan tumbuh laksana pepohonan

    November 2009
    terimakasihku untuk sahabat-sahabat yang telah mengisi ruang hati ku yang kekosongan
    untuk namanya yang tak terucap tapi di hati tertancap..
    senyum hatiku untuk mu, moga sang Cinta menyayangmu..

    ############
    #
    #
    #

    Aku sering mengira…..

    Doaku sudah sungguh sunguh
    Padahal ternyata masih sepintas lalu

    Aku sering mengira
    Aku sudah melakukan usaha yang terbaik
    Padahal masih bisa kulakukan 5 usaha yang lebih baik lagi

    Aku sering mengira
    Pengetahuanku sudah cukup banyak
    Padahal 5 buku lagi masih bisa kubaca

    Aku sering mengira
    Ibadahku sudah yang terbaik
    Padahal aku bisa membuatnya lebih baik lagi

    Aku sering mengira
    Aku hampir tidak punya dosa
    Padahal dosa lisan saja masih banyak

    Dan aku sering mengira
    Aku sudah lakukan semua yang terbaik
    Padahal Allah tahu
    Aku balum melakukan yang terbaik
    Karena Dia tahu siapa sebenarnya diriku
    Dan Dia tidak akan menyuruh atau membebaniku
    Kecuali sesuai dengan kemampuanku yang sebenarnya.

    November 2009

    * By: Mohamad Iqbal (ibel_abel). Mahasiswa jurusan Matematika ’04 UIN Maliki Malang. Asal Pamekasan Madura.

  66. “salah siapa”

    kala langit menghitam dan laut bergemuruh
    hati ibu tergores kembali
    anak-anak menjerit
    orang tua menangis

    badai ini tak kunjung berakhir
    ini salah kita atau salah pemimpin ??
    jika saja, kita mau mengoreksi
    pasti semua tidak akan terjadi

  67. “Taubat”

    awan seakan terus kelabu
    menyelimuti bumi yang penuh dengan keanekaannya
    kapan semua ini berlalu
    aku takut bumi tak kuat menahannya

    Kau memang berhak untuk marah
    Kau juga punya hak untuk murka
    aku tahu pintu taubat selalu kau buka
    aku tahu masih ada jalan untuk keluar

    seandainya saja, umatMu cepat sadar
    aku yakin, murkaMu tak sedahsyat ini
    seandainya saja manusia tak pernah rakus
    bumi ini pasti akan terurus

    Demi Allah jalan itu masih ada
    kenapa tidak kita coba?
    masih ingatkah kau dengan semboyan kita?
    semua pasti bisa kalau kita tidak malas untuk mencoba

    TAUBAT…..

  68. Kegalauan hati

    aku tau semua ini gila
    semua ini terlalu dipaksakan
    tapi hati ini tak mau diam
    sulit buatku untuk menghindar

    kadang aqu jenuh dengan semua ini
    namun perasaan itu datang kembali
    ingin kuusir namun dia tetap bertahan
    memang ini salahku

  69. janji manusia

    Tuhan , aku manusia yang penuh dosa
    aku manusia yang selalu lupa akan kewajibannya
    apakah Engkau masih berkenan mengampuniku
    Masihkah Engkau mau memaafkanku

    setiap malam aqu hanya berjanji dan berjanji
    tanpa ada niat melakukannya
    aqu sedih setiap kali teringat janjiku
    masih pantaskan aku Kau ampuni

    malu rasanya, aku selalu minta banyak dariMu
    tapi aku selalu lupa padaMu
    dikala suka aku lupa
    kala sedih semua teringat kembali

  70. Sebuah Perjuangan Dalam Kesendirian

    Sejauh mana ku melangkah
    Sejauh itu pula kukecewa
    Hidup sudah semakin tidak jelas entah mau kemana
    Mungkin ini terlihat fatalistik maju kena mundur kena
    Akankah sang malaikat penyelamat itu turun dari langit
    Demi menuntaskan misi suci, tegaknya kebenaran yang hakiki
    Bilakah terbitnya sang mentari yang kan menyinari kegelapan ini
    Wahai kawan dimanakah kau berada
    Adakah kau lupa akan perjanjian kita
    Disaat bahagia maupun duka nestapa
    Bahwasanya akan selalu bersama-sama mamikul beban ini
    Hingga maut menjemput jua
    Baiklah, ada maupun tiada, bersama-sama ataupun sendiri saja
    Tak apalah
    Ku kan terus maju bergerak dan berjuang, hingga titik darah penghabisan
    Mungkin hanya sampai disini arti persahabatan kita
    Sampai jumpa kawan ku berharap
    Bisa berjumpa denganmu nanti didalam rumah tanpa kesengsaraan

  71. AKU dan AKU

    Di dalam kesendirian, ku hanya bisa diam
    membisu dan tenggelam dalam kesunyian

    Di dalam keramaian, ku hanya bisa melihat
    memandang dan hanyut dalam derasnya gelombang

    Di dalam kebersamaan, ku hanya bisa mengangguk
    tak ada pilihan dan mencair dalam bauran

    Apa yang aku lakukan, hanyalah sebuah tanda tanya
    tak bermakna dan akan menghliang begitu saja

    Aku tak peduli dengan semua itu
    biarlah orang berkata apa
    yang tau hanyalah aku, aku dan aku…

    Mereka tak akan mengerti
    dan mereka tak mau mengerti

    Karena mereka juga hanya tau kata aku, aku dan aku…

    Andai saja semua mengenal kata kita,
    kita bersama…

  72. Sebuah Pengakuan

    Ya Rabb,

    Aku tau hidup ini hanya sekali,
    tapi mengapa aku tidak memanfaatkannya dengan baik

    Aku tau alam ini semua adalah milikMu,
    tapi mengapa aku tidak tunduk kepadaMu

    Aku tau harta ini adalah pemberianMu,
    tapi mengapa aku tidak bersyukur terhadapMu

    Aku tau hidup ini sebenrnya indah,
    tapi mengapa a membuatnya menjadi suram

    Aku tau ada jutaan warna di dunia ini,
    tapi mengapa aku hanya melihat hitam yang kelam

    Ya Rabb,

    Aku sadar…
    Aku jauh dariMu
    Aku jauh dari rumahMu
    Aku lalaikan semua kewajibanku
    Aku dustakan semua keagunganMu

    Maafkanlah hamba Ya Allah…
    ampuni hamba yang nista ini…

    Tunjukkanlah hamba menuju cahayaMu

    Ihdinas shiraatal mustaqiim,
    Tunjukilah kami jalan yang lurus,

    Siraathal ladzii na’an ‘amta ‘alaihim,
    ghairil maghduu bi’alaihim, walad dhaalliin
    Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat,
    bukan jalan mereka yang dimurkai
    dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

    Amiin…

  73. Saat Kuragu akan dirinya…;)

    Ya Allah…
    Seandainya telah Engkau catatkan
    dia akan mejadi teman menapaki hidup
    Satukanlah hatinya dengan hatiku
    Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
    Agar kemesraan itu abadi
    Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
    Seiringkanlah kami melayari hidup ini
    Ke tepian yang sejahtera dan abadi
    Tetapi ya Allah…
    Seandainya telah Engkau takdirkan…
    …Dia bukan milikku
    Bawalah ia jauh dari pandanganku
    Luputkanlah ia dari ingatanku
    Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
    Dan peliharalah aku dari kekecewaan
    Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
    Berikanlah aku kekuatan
    Melontar bayangannya jauh ke dada langit
    Hilang bersama senja nan merah
    Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya
    Dan ya Allah yang tercinta…
    Gantikanlah yang telah hilang
    Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
    Walaupun tidak sama dengan dirinya….
    Ya Allah ya Tuhanku…
    Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
    Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
    Adalah yang terbaik buatku
    Karena Engkau Maha Mengetahui
    Segala yang terbaik buat hambaMu ini
    Ya Allah…
    Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
    Di dunia dan di akhirat
    Dengarlah rintihan dari hambaMu yang dhaif ini
    —————————————-
    Jangan Engkau biarkan aku sendirian
    Di dunia ini maupun di akhirat
    —————————————-
    Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
    Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
    Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
    Ke jalan yang Engkau ridhai
    Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh
    Amin… Ya Rabbal ‘Alamin.

    November 2009

  74. -> Kenapa Engkau Tidak <-

    I
    Semua kisah sudah kulupakan,
    semua kesalahan sudah kumaafkan,
    semua masa lalu sudah ku’arsipkan’.

    Tapi mengapa engkau tidak?

    ======================================

    II
    Bila kau tahu apa yang aku inginkan,
    jawabannya adalah : ‘Masa Depan‘.

    Bila engkau ingin tahu kemana arahku melangkah,
    maka ketahuilah, hari ini,
    dan esok hari, juga esoknya lagi…
    agenda utamaku adalah : ‘Mencari Jalan Pulang‘.

    Namun kalau kau nekad juga bertanya siapa yang aku cintai,
    Ah jangan bercanda!! Aku bukan yang dulu lagi,
    sekarang aku hanya mencintai diriku sendiri.
    Cemburu aku kalau diriku berdekat-dekatan, bermesra-mesraan dan
    sampai mencintai seseorang yang lain
    ‘.

    ======================================

    III
    Kalau engkau setuju,
    mari kita kembali…
    kuajak kau pulang kembali…
    bukankah setiap kita merindukan rumah

    ======================================

    IV
    Jangan kau menertawakanku
    menganggapku sok dan berpaling
    bisa jadi aku benar
    dan dulu kita sama-sama salah

    Bukankah sangat mungkin kita berbuat salah?
    walaupun dulu kita bersepakat,
    berbuat, bersenang, berlumur
    dan kita jadi lupa

    Ah seandainya kau mau mendengarkanku
    kuajak kau kembali
    belajar, dan memulai jalan baru

    Ah seandainya engkau tahu
    aku sudah sampai setengah jalan
    dalam perjalanan menjadi ‘aku‘

    ======================================

    V
    Saudaraku,
    jangan kau bilang aku sudah tak mencintaimu

    Karena cintakulah
    aku malu

    Karena cintakulah
    aku begini

    Biar saja dunia bilang apa,
    pula engkau
    aku tidak akan undur
    menjadi gelombang beliung

    padahal,
    di depan sana
    ada pantai indah
    pelabuhan hati yang luka

    [Kertoraharjo, 12 Desember 2007]

  75. Adekku…
    Rindu yang selalu menggelayut kalbu…
    Sadarkah engkau adekku?…
    Hati ini tersayat mendengar namamu…
    Kapan kakak bisa membahagiakanmu?…
    Adekku…
    Terbayang mulut mungilmu…
    Menangis tersedu…
    Senyum renyah wajah imutmu…
    Akankah lenyap ditelan waktu?…
    Adekku…
    Kakakmu ini bisa apa…
    Ditengah melangitnya biaya sekolahmu…
    Kemana kau kan mengadu adekku?…
    Ketika uangmu tak mencukupi jajanmu…
    Kakakmu ini bisa apa…
    Saat temanmu menghisap lolipop…
    Kau memandangku dengan tatapan penuh harap…
    Kakakmu tak bisa apa-apa adekku…
    Suatu saat kau kan sadar adekku…
    Suatu saat kau kan sadar adekku…
    Hanya kitalah yang sanggup merubah dunia kita…
    Adekku…
    Tatap nanar dunia luar dengan mata biasmu…

  76. Simphoni Esok Hari
    Hiruk pikuk aktivitas esok hari…
    Saat jiwa di puncak tertinggi…
    Kala semangat membuncah di hati…
    Saat itulah petani menyeka keringat pertama…
    Diiringi senyum diwajah sang surya…
    Yang mulai bergerak meninggi…
    Kita sedekahkan jiwa pada semangat tiada padam…
    Kita tundukkan hati pada sang maha tinggi…
    Berdirilah atas apa yang terjadi…
    Hindari hantaman ulu hati…
    Ciumlah wangi surgawi…
    Renungkan semua…
    Segarkan pagi…
    Sejukkan wajah yang muram durja…
    Hentikan aktivitasmu sekedar…
    Satukan wajahmu dengan bumi…
    Jejakkan kakimu mantapkan hatimu…
    Ayunkan tanganmu…
    Peluk erat dadamu…
    Tumpahkan keluh kesahmu…
    Tulis semua mimpi-mimpimu…
    Haturkan semua dalam Dhuhamu…

  77. ahmed ibnu Imam Says:

    PESAN DARI MADINAH

    Meresapi derita di setiap zaman
    Bermula menatap punahnya warisan Anbiya’

    Disusul heran melihat hidup-hidup mulai tak wajar
    Sejurus kemudian baru disadari, ada lawan yang bersembunyi

    Di balik kedok-kedok politik, ilmiah, budaya, dan agama
    Akar-akar iman… terbakar pasrah dijajah akal, oleh mereka

    Melumat cahaya menjadi gulita terbitlah jahiliyah
    Yang dulu juga pernah terjadi di suatu episod di Madinah

    Laknatullah! sekarang genderang tempur ditabuh
    Mukminin dan mukminat!! Keraslah kepalkan tangan lawan musuh

    Barisan ditegakkan berkobar pekikkan
    Allahuakbar!! Allahuakbar!! Allahuakbar!!

  78. ahmed ibnu Imam Says:

    AIR MATA MALU

    Belukar pedih menyengat luka tersayat ulah sadis jelita
    Mereka menggurita! Tanpa peduli tanpa tahu diri

    Di hadapan khalifah Tuhan ini, menjadi bedarah dan tekapar
    Sedang memilih teraniaya dari pada durhaka

    Memang indah nan anggun ciptaan Maha Karya itu
    Tapi hitam dan putih akan kabur bila tersihir nafsu

    Maka sekalipun panas api membara, itu yang menjadi pilihannya
    Mengalir dalam benak akan berangkat gugur menjadi syuhada’

    Tangis ini air mata malu, atas segala dosa akan ditayangkan di akhirat sana

  79. Romantika Malam Minggu

    wanita tua berkerudung kuning

    berjalan lunglai menjinjing dua kresek hitam besar

    di belakang pria tua memanggul sekarung sampah botol plastik

    mereka kemudian berhenti di emperan jalan

    tepat di depan tempat kerjaku

    kresek hitam rebah di tanah

    karung plastik sedikit dibanting

    rupanya suami istri

    selonjor istirahatkan kaki

    merapatkan kancing yang terbuka

    malam yang dingin…

    membetulkan jaket suami

    kotor berdebu satu-satunya

    kerudung kuning jadi mahkota

    pelindung panas yang menyengat saat kerja

    bibir mereka bergerak-gerak

    sang suami manggut

    jangan harapkan senyum

    terlalu lelah hidup

    lapar…

    istri keluarkan bungkusan putih

    sudah lapar ya…

    berharap makan malam romantis

    atau sarapan untuk tenaga esok ?

    suami dilayani dulu

    dituangi kuah sayur dari dalam plastik

    entah pemberian entah pembelian

    makan yang lahap ya…

    istri baru makan

    kakek terbatuk, muntah !

    angin keluar masuk, kasep !

    minum dari botol

    istri yang telaten

    minumlah kek…

    dielus sang istri

    sandal jepit dilepas

    sedikit pijatan lalu kembali makan

    minum air, haus, selesai makan

    sebotol bergantian

    botol kosong lalu disimpan

    berharap tetap terisi

    bungkusan dibedah

    kain, plastik, botol, berantakan

    mau dibawa pulang

    tapi kemana ?

    tangan suami raih karung

    istri menyalak, tangan dilepas

    “istirahat saja” mungkin

    sudah rapi, sekarang sepi

    asyik memandang lalu lalang

    istri mengantuk tanpa merajuk

    saatnya tidur…

    tas plastik dijinjing, karung dipanggul

    beranjak pergi, pulang ?

    cari emperan toko yang sudah tutup

    besok ya besok

    istri turut di belakang

    “kula tumut panjengengan, pak’e”

    dalam hati “alhamdulillah…”

    tlogomas, 14 maret ’09

  80. saat matahari tutup usia
    apa yang
    ia harap
    dari senja
    apa yang ia harap dari senja
    saat kerut awan tak lagi teduh

    apa yang ia harap dari senja
    saat tubuh merajuk mnta leyeh-leyeh

    apa yang ia harap dari senja
    saat mbako di tangan tinggal sebatang

    apa yang ia harap dari senja
    saat hanya mampu pandangi bocah main dakon

    apa yang ia harap dari senja
    saat picis telah berwujud pisang goreng
    apa yang
    ia harap
    dari senja
    saat matahari tutup usia

    emperan merah putih net tlogomas, saat matahari di atas kepala

  81. Ckrip.. Oh.. Ckrip..

    Ckrip.. Oh.. Ckrip..
    Pagi yang kumulai dengan kelalaian
    Entah apa pagi ini baik rezeki ku?
    Ataukah azab yang menanti?

    Ckrip.. Oh.. Ckrip..
    Pagi Pikirku ini akan-lancar-lancar saja
    Walau ku tau kelalaian yang ku mulai pad pagi ini
    Ku tapakkan kaki penuh keyakinan membuncah
    Menuju telaga condrodimuko terlihat indah

    Ckrip.. Oh.. Ckrip..
    Rupanya kebingungan demi kebingungan telah menanti
    Hati dan pikirku seketika kacau balau dibuatnya
    Langkah-langkah bak bola pimpong kulakoni
    Hati dan pikirku kacau yang bertambah-tambah
    Hampir asa ku putus ditengah jalan

    Ckrip.. Oh.. Ckrip..
    Kusimbah air inspirasi dari langit
    Kutenangkan hati sembari merayu langit
    Harap cemas kulantunkan rayuan pada langit
    Melapangkan hati dan kembali menapaki titah langit

    Ckrip.. Oh.. Ckrip..
    Kembali dengan setengah jiwa yang hampir penuh ini
    Mencari kepastian dari kebingungan hati dan pikirku
    Ada mauizah dari perjalanan ini dan ada kepastian
    Yang akhirnya ku dapatkan idealisme yang tergadaikan dulu
    Walau hati dan pikirku bercampur luka bernanah

    Ckrip.. Oh.. Ckrip..
    Tapi jiwaku tak kan pernah mati…

  82. ryan bukan anak jombang Says:

    Kawan…!

    Setitik KASIH membuat kita SAYANG
    Seucap JANJI membuat kita PERCAYA
    Sekecil LUKA membuat kita KECEWA

    Tapi sebuah PERSAUDARAAN, membuat kita BERMAKNA…!

    let’s keep our brotherhood….!

  83. PERANG EMAS MASA DEPAN

    Gamang bimbang dalam keraguan
    Bertumpuk Tanya dalam angan membayang
    Antara iya dan tidak
    Antara maju dan mundur
    Antara sanggah atau muntah

    Riuk pikuk gelombang mendebur kian
    Sangantlah terhentak badan menghadang menegang
    Seolah runtuh gunung pada awan
    Tanpa ragu melepas beban mengerang
    Akhirnya itu pilihan

    Ini saja turun ke jalan
    karena tak ada biji ku sumbangkan utnuk ditanams
    lari ku darinya coba menghindar perang
    tak peduli ku pada kehancuran atau kemenangan
    terpenting aku ringan melayang

    hai kau……
    para pecundang jalanan
    tiadakkah kau pikir rintihan saudaramu menahan
    demi kau kita dan dien-Nya
    bukankah kita sama dalam amanah?
    Maka kesibukan manakah yang kau pentingkan?

    Kau kata menimba emas masa depan
    Bukankah aku mengeruk intan berlian?
    Kau kata amanah utama ku jalankan
    Bukankah aku juga menikmati amanah yang kau agungkan?
    Kau kata bosan…
    Aku ah……………..
    Entalah kata itu busa?
    Mengapung terobang ambing tak ber bisa
    Yang berbisa hanya rupiah

    Terkadang lunglai bertekuk lutut dibuatnya
    Atau keringnya kerontang iman didada?

    Penggugah hati pikir dan kerja
    Moga tersinggung hati tersungging
    Punggung terhuyung kaki terjinjing

    Suatu saat nanti terlihat panggling

    Siapa aku yang iling?

    Malang, 12 november 2009
    Diantara fajar dan dhuha

  84. Pahlawan Bertopeng Says:

    DALAM GERHANA

    Kita sedang hidup di suatu masa
    Ketika bumi tak sudi bersahabat lagi
    Cahya rembulan terhalang sangkakala
    Angkara murka mengalahkan matahari

    Gelap negeriku terkubur dalam gerhana
    Tanpa cahaya menerangi bangsa ini
    Berat langkahku tersesat tertipu arah
    Saling membenci dan kami saling menjarah

    Merah hitam negeri ini berlumur darah
    Tersia-sia dari anugerah dan rahmat
    Mata pedang pemimpinpun berubah arah
    Tajam menikam menghianati amanah

    Lama kita tidak menyaksikan pelangi
    Warna-warna indah di langit biru
    Pekat hitam mengubah bening telaga
    Burung-burungpun enggan bertandang lagi

    Kita sedang hidup di suatu masa
    Ketika asa tak lagi bersuara
    Mari tunduk sujud kepadaNya
    Mari tunduk sujud kepadaNya

    Malang,14 November 09,jam 11.30….saat injury time(masih mengandung nuansa Hari Pahlawan)

  85. Pahlawan Bertopeng Says:

    DENDANG INDONESIA

    Inilah indonesia
    Berdegup dadamu
    Seiring bergetarnya irama pagi
    Jangan biarkan iblis menelanmu
    Kobarkan dalam ayun langkahmu

    Inilah indonesia
    Bangsa untuk semua
    Karena matahari masih milik kita
    Jangan biarkan segalanya sia-sia
    Karena asa ada dalam dada kita

    Inilah Indonesia
    Aku Padamu
    Kabarkan pada dunia
    Tentang riwayatmu
    Karena sejarah bukti kehebatanmu

    Inilah Indonesia
    Tempat anak pandai nyanyi merdeka
    Berlari mengejar tanpa harus menemukan
    Masa depan seperti banyak dibayangkan
    Di bangsa ini kehidupan jadi milik sendiri

    Inilah Indonesia
    Inilah Indonesia
    Aku padamu…….

    Malang,14 November 09,jam 12.05…..saat injury time lebih sedikit…..

  86. Arti Hidup

    Kawan….apakah arti hidup..???
    Kufikir…Hidup bagai torehan warna dalam kertas putih…
    Bagi si miskin..hidup adalah penderitaan batin…
    Bagi si kaya…hidup adalah saat dimana bergelimang harta…
    Bagi si pandai…hidup adalah jendela informasi…
    Bagi si alim…hidup adalah saat dimana mendekatkan diri dengan ilahi…

    Dan…bagiku….
    Hidup adalah disaat ku mengenal “dia…”

    Disaat ada canda dan tawa…
    Disaat ada duka dan lara….
    Kawan saat kesendirian…
    Penyemangat saat penat…

    Ketika setiap langkah kaki menjadi sangat berarti…

    • Kala Bunga Bukan Bunga

      Dia tak layak dipanggil bunga…
      Dia tak bisa seperti bunga…
      Dia tak cantik…
      Dia tak juga menarik…
      tak banyak pula yang melirik…

      tapi…
      dia tetaplah bunga…
      walau tak cantik..tak menarik bahkan juga tak dilirik…

      dia tak layak dipanggil bunga..
      dia bukanlah penghias kamar istana..
      dia tak menjadi dambaan putri raja..
      dan dia pun tak bertahtakan vase permata..

      namun dia tetaplah bunga…
      walaupun hanya sebagai penghias lapangan bola
      walaupun hanya menjadi dambaan para penggembala..
      walaupun hanya beralas coklatnya tanah…

      dia tetap bunga…
      dia juga berhak dipanggil bunga..
      tetaplah bernama bunga…
      walaupun hanya bunga sang padang ilalang…

  87. Arti hidup

    Kawan…apakah arti hidup..??
    Kufikir..hidup bagaikan torehan warna dalam kertas putih…
    sipapun mempunyai kebebasan untuk menuliskan cerita hidupnya…

    Bagi si miskin…hidup adalah kesabaran dalam menahan penderitaan batin…
    Bagi si kaya…hidup adalah cobaan dalam kegelimangan harta…
    Bagi sang penulis…hidup adalah untaian kata-kata yang penuh makna…
    Bagi si pandai…hidup bagai jendela informasi…
    Bagi si bodoh…hidup adalah perbudakan…

    lalu…
    apa arti hidup bagi kalian…?

    Bagiku…
    hidup lebih berarti kala ku mengenal “dia”
    saat canda dan tawa lebih bermakna…
    saat duka dan lara juga beban bersama..
    kawan saat kesendirian…
    penyemangat saat penat…

    hidup menjadi bermakna….
    kala tiap jejakan kaki meninggalkan arti…

%d bloggers like this: